Surat kecil untuk Tuhan dan Arti Hidup

zul
1
sumber foto : agama-islam.org
          Hidup itu seperti menggambar pada sebuah kertas, kertas yang awalnya putih maka akan menjadi beragam warna setelah kita corat-coret di atasnya. Dan yang lebih mendominasi warna hidup seseorang itu yaa warna hitam dan putih, dari sekian waktu kita menggambar kertas tersebut, tak bisa dipungkiri, kadang kita salah dalam member warna, hingga akhirnya kita mencoba menghapusnya dan memperbaikinya, walau coretan yang salah itu tak akan pernah bersih seperti awal lagi, masih ada bekas, tetapi itulah usaha kita agar kita bisa mengisinya dengan warna yang lain, walau goresan itu tak bisa di hapus.


         Cukuplah coretan di atas, menggambarkan rasa kurang berartinya dan bersyukurnya saya dalam menjalani hidup. Jum’at. 13 april 2012. Saya dikejutkan dengan kabar temannya ayah saya meninggal dunia, amank ihin, sebut saja namanya. setelah sempat seminggu yang lalu kami menjenguk beliau di RS. Tak sedikitpun saya curiga kalau beliau harus menghembuskan nafas terakhir beliau di jum’at ini, saat itu beliau terlihat masih segar, bahkan sempat bercanda-canda dengan kami. Memang beliau orangnya humoris. Kencing manis yang menggerogoti beliau hingga harus berbaring di RS. Yaa beliau teman ayah waktu kuliah, mereka juga pernah muda, pastinya aktifitas anak muda juga tak pernah mereka lewatkan. Sayangnya beliau sampai akhir hayatnya belum menemukan jodoh. Hingga status lajang terus bersamanya. Mungkin Allah punya jalan lain buat beliau.

           Kebetulan sekali, di tempat saya ngajar juga ada pak ridwan, beliau juga teman ayah saya dan teman amank ihin. Pagi itu di rumah duka, pak ridwan sesembari ngobrol dengan saya, memerhatikan jenazah yang di kafani.
Obrolan singkat sedikit berbisik :
“kita semua juga akan seperti ini, sampai waktunya nanti”
“inggeh pa’ai”
hanya amal kita nanti yang bisa memelihara kita” ucap beliau dengan pelan kepadaku, tak banyak yang bisa kuucapkan, hanya anggukan-anggukan kecil mendengarkan petuah beliau.
(dalam hati) ya Allah, aku masih belum siap jika ini terjadi padaku, Amalku tak seberapa, apa yang bisa menyelamatkanku jika aku terbujur kaku seperti ini.
          
          Dikafani pun selesai, selanjutnya adalah satu per satu keluarga dekat mencium beliau. Terlihat orang-orang yang berada di sana tak mampu menahan air mata. bahkan ada seorang keluarga beliau, beliau menangis hebat ketika akan mencium beliau. Ucapnya sembari menangis ”unda abah mama semalam kada menangis, tapi ini kada tahan unda”. Mataku berkaca-kaca saat itu.
Aku masih terenyuh, bagaimana seandainya aku terbujur kaku seperti itu. Amal ibadah apa yang bisa membantuku, apa yang bisa kutinggalkan bagi orang yang mengenalku, aku merasa tak berarti apa-apa. Mudah-mudahan kita dipanjangkan umur untuk terus bisa memperbaiki diri dan menjadi seorang yang diridhoi-Nya. Amin

            Padahal, saatku berangkat kesana, sebelum sampai di rumah beliau, di sepanjang jalan aku sambil menghayal bagaimana kalau aku menjadi salah satu audisi Indonesian idol. Gila banget, sepanjang jalan tu aku nyanyi-nyanyi kaya penyanyi gitu lah. Bahkan para juri juga memuji aku, Astagfirullah, semua khayalan itu hilang seketika ku masuk ke rumah beliau. hmmm menghayal seperti itu seakan yakin kalo umur kita bakal panjang. Padahal umur itu gak bisa diketahui. Pepatah banjar, “umur itu kada babau”.
           Lumayan panjang juga sudah postingan kali ini, semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut, sebenarnya masih setengah cerita lagi ni, tapi saya yakin. Kalo blogger itu malas baca yang panjang-panjang. Jadi insya Allah saya sambung di bagian kedua. Ituu tuu bagian surat kecil untuk Tuhan.
okee Salam.
Tags

Posting Komentar

1 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top