Rabu, Agustus 17, 2016

Tentang Hujan: Air Yang Jatuh, Tanah Basah Dan Hawa Dingin

Tentang Hujan: Air Yang Jatuh, Tanah Basah Dan Hawa Dingin

Penulis : Putri


Sepasang Merpati Menikmati Hujan gambar:fotokita.net
Saya adalah tipe orang yang menyambut gembira ketika hujan turun, tapi dengan catatan, saat hujan saya tidak sedang dalam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. Saya senang ketika berada di rumah, dan tiba-tiba turun hujan, entah mengapa ada perasaan bahagia melihat rintik-rintik hujan jatuh ke bumi. 

Saya menikmati bau tanah kering yang menguar saat air hujan membasahinya. Semacam ada perasaan lega melihat tanah yang tadinya kering kerontang menjadi lembab dan basah. Sesekali, saya menengadahkan tangan menyambut air hujan yang jatuh dari pinggiran atap rumah, hanya sekedar untuk menahannya sesaat sebelum jatuh, mengalir dan terserap ke dalam tanah. Setidaknya, ada 3 hal utama yang sering saya temui dan rasakan ketika air dari langit tercurah dalam bentuk rintik dan deras. Itu pula bagian terbaik yang saya tahu tentang hujan…

puisi tentang hujan
foto:brilio.net

Hawa Dingin
Hujan senantiasa diiringi dengan hawa dingin. Bagi saya yang masih sendiri, hawa dingin seperti terapi bagi tubuh yang lelah. Namun, semakin dirasa, dingin terkadang bisa menjelma menjadi tusukan duri ketika pada suasana tersebut muncul kenangan-kenangan yang tidak seharusnya hadir. Atau, ketika hawa dingin yang kian merasuk memunculkan hasrat untuk ditemani namun kenyataannya masih saja sendiri.

Tanah Lembab
Pada tanah yang lembab karena air hujan mengajarkan saya, bahwa kekeringan yang telah berlangsung sekian lama, pada akhirnya bisa tersapu dalam sekejap mata ketika Tuhan berkendak mengucurkan rahmat-Nya. Tanah yang kering kerontang dan tumbuh-tumbuhan yang semakin layu menjadi segar kembali. Tuhan seperti sedang berbicara kepada saya bahwa segala sesuatu ada masanya.

Air Yang Jatuh 
Tak ada yang lebih jelas dari hujan selain air yang jatuh. Ya… inilah pertanda utama dan mengapa air dari langit disebut hujan. Dari proses terjadinya, saya belajar bahwa perjalanan air yang mengalir begitu panjang, begitu tidak mudah dan mungkin saja begitu lama hingga ia mampu mencapai tingkat yang tinggi dalam bentuk gumpalan-gumpalan kapas di atmosfer, meski pada akhirnya akan kembali jatuh. 

Tentang hujan… dalam satu kejadian itu saja, ada begitu banyak pelajaran yang bisa diambil. Namun, hanya karena ia seringkali terjadi, keberadaannya seakan tidak berarti bahkan tak jarang dicaci. “Kenapa harus turun hujan?”, berhentilah mengeluh atau bertanya, bukankah lebih baik memanjatkan doa. Setiap rintiknya, mungkin saja akan menjadi saksi dari doa yang sedang dipanjatkan.

2 komentar:

  1. Blogger dri Kandangan.. kytu nah Ka Zul ae...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa tu,,,,masih maidit nah bnyak nah blum pas masih,,,,,,tapi kandangan ada jua di Kediri dinkai....hahaha

      Hapus

Silahkan Tinggalkan Jejak, Insya Allah saya akan berkunjung balik

Copyright © 2014 ieZul Blog | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top