Sabtu, Oktober 23, 2010

Solidaritas itu indah part 2

Menyambung judul yang pertama...

Saat itu kamipun masuk kedalam rumah sakit untuk melihat keadaan yang sakit, oooyaa yang sakit itu, namanya Ridho anak dari bibiku, umurnya sekitar 4.5 tahun, mengidap penyakit leukimia atau kanker darah, kasian sekali anak tersebut, dulu badannya putih, lucu juga, tetapi saat itu badannya terlihat berwarna biru, kurus, dan kadang darah keluar sendiri dari dalam hidungnya, kadang juga muntah darah, sehingga kadang dia sangat membutuhkan bantuan darah.

Dari hal tersebut sangat menyadarkanku akan betapa berartinya kesehatan dan karunia Tuhan kepada kita, begitu juga sumbangan darah yang sangat-sangat-sangat berrguna bagi mereka yang membutuhkan, kesehatan yang kadang tidak kita sadari ini selalu membuat kita lalai dan lupa dari mengingat Sang Kholiq. Ampuni kami ya ALLAH...

Next, ketika kami berada dalam ruangan tersebut, aku melihat paman sambil menggendong ridho, sedangkan bibiku terlihat selalu menangis, seakan tak kuasa melihat betapa beratnya penyakit yang didera ridho. Aku pun tak sanggup berada di dalam ruangan tersebut dan akhirnya kami pun duduk-duduk di luar ruangan, walau saat itu sangat dingin. Dan tiba-tiba acilku pun berlari seraya menuju mengharap bisa mendapatkan darah yang telah didonorkan tadi, aku pun hanya terbengong melihat, tapi hati ku pun terenyuh, Ya Allah betapa besar pengorbanan seorang ibu, dia yang begitu khawatir, berlari-lari seakan  sesuatu ketakutan mengejar beliau, Ya Allah ampuni hamba-Mu ini yang kadang tak berbakti kepada orang tua, selebihnya Ibuku, ummi maafkan anakmu ini, I Love U maa...*mata berkaca-kaca*  J “ya Allah ya Rabbi, jaga beliau, jaga kesehatan beliau, jauhkan dari marabahaya, berilah selalu keberkahan agar hidup ibu begitu indah”.dan begitu pun juga dengan Ayahku, aku mencintai mereka Ya Allah....”rabbigh firli waliwalidayya, warhamhuna kama rabbayaani sooghiiraa..”

Ketika sampai di kantor PMI tersbut, karena kantor PMI tersebut bersampingan dengan rumah sakit. Beliau seraya meminta darah tersebut dan ternyata darah tersebut tidak bisa langsung diambil, karena harus diproses dulu, sedangkan anak tersebut sangat membutuhkan. Hingga akhirnya terpaksa anak tersebut disuntik dengan sesuatu yang mungkin menahan pengeluaran darah dirinya. Dan selesai disuntik ternyata bukanlah seperti yang diharapkan, ternyata sang anak tetap mengeluarkan darah, hingga akhirnya dua kali sang Ibu berlari kembali meminta darah, dan hasil dapat satu kantong, tetapi anak tersebut membutuhkan 6 kantong, hingga akhirnya darah pun bisa dimasukkan kembali setelah jam tujuh pagi. Kami pun terkejut, bagaimana anak ini padahal dia sangat membutuhkan, hingga akhirnya bibiku menyuruhku untuk membeli tissu, karena tissu untuk menyapu darah yang keluar dari anak tersebut sudah mau habis, akhirnya aku pun keluar rumah sakit, terpaksa harus menggunakan jalan masuk UGD, karena jalan lain tertutup semua. Hingga keluar jalan dan alhamdulillah dapat tissu, dan setelah kuberikan tissu tersebut, akupun tak kuasa melihat sang Ibu yang selalu menangis smbil membacakan kalimat tahlil.

Akupun keluar rumah sakit dan hatiku selalu berdoa dalam hati, sambil hati tak bisa tenang merasakan musibah yang menimpa keluargaku tersebut. Akhirnya akupun pulang kekost ku, begitu juga para keluargaku yang lain, mereka juga pulang kerumah . karena waktu saat itu kalau tidak salah menunjukkan jam 4 subuh. Aku mash tertidur

Pagi itu di rumah sakit, Ridho meminta ayahnya untuk dibawa berjalan-jalan keluar Rumah sakit, sang ayahpun membawa berjalan, dan akhirnya sekitar jam 8 sang anak menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan sang ayah. (maaf kalau salah dengar, karena saat itu saya masih dikost).

Aku siang itu hanya bisa terkejut mendengar kabar trsebut. Tapi itulah Takdir.

Marilah kita bersama berdoa

“ya Allah, Tuhan semesta alam, yang menciptakan, maha pengasih lagi maha penyayang, jutaan karunia-Mu yang tak kami sadari selalu membuat kami lupa akan berbagai nikmat-Mu, semua yang engkau berikan tak pernah kami balas dengan sekuat usaha kami, kami seakan cuek dengan berbagai rizki yang Engkau berikan. Ya Allah ampuni dosa kami, hidup di dunia yang hanya sebentar ini, yang juga sebagai jembatan penyeberangan ini, kadang kami lupa ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Untuk bisa bersama menggapai Ridho-MU. Ampuni kami ya Allah... Ampuni kami ya Allah.... Ampuni kami ya Allah...subhana rabbika rabbil izzati amma yusrifun, wa salamun alal mursalin wal hamdulilahirabbil alamin...

7 komentar:

  1. Dah baca yang part 1 juga. Solidaritas seperti yang digambarkan di part 1 itu tetap harus dipertahankan. Solidaritas dengan siapa pun, baik itu yang kaya, ga terlalu kaya, ga terlalu miskin, maupun yang miskin; tidak juga harus memandang ras atau agama untuk bersolidariitas.

    :) Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/
    http://notulabahasa.com/

    BalasHapus
  2. semoga dapat bertahan dengan baik solidaritasnya

    BalasHapus
  3. setuju mas..hehehe besar pengorbanan seperti itu...salam hangat :)

    BalasHapus
  4. Kukira kam ni kada tahu di kawan jul ai...

    BalasHapus
  5. behhh kam....jangankan kawan,,,,,lawan haja aku kada ingat...

    BalasHapus
  6. [...] disini  solidaritas itu indah part 2 Like this:SukaBe the first to like this post. Cerpenku ← Begitu Indahnya Puisi ini [...]

    BalasHapus

Silahkan Tinggalkan Jejak, Insya Allah saya akan berkunjung balik

Copyright © 2014 ieZul Blog | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top