Bagaimana metode hilal hari raya idul fitri NU dan Muhammadiyah

zul
0

Penentuan Idul Fitri (1 Syawal) di Indonesia sering kali menjadi perhatian publik karena adanya potensi perbedaan hari. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kriteria minimal ketinggian hilal yang digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.


​Berikut adalah rincian mendalam mengenai kedua metode tersebut:

​1. Metode Nahdlatul Ulama (NU): Rukyatul Hilal

​NU berpegang teguh pada metode Rukyatul Hilal, yaitu aktivitas mengamati visibilitas hilal (bulan sabit tipis) secara langsung di lapangan saat matahari terbenam pada hari ke-29 bulan Ramadan.

  • Landasan Fikih: Mengacu pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim: "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (lebaran) karena melihat hilal."
  • Kriteria MABIMS (3-6,4): Sejak tahun 2022, NU bersama Pemerintah RI menggunakan kriteria baru hasil kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Hilal dianggap "mungkin terlihat" jika:
    1. ​Ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk.
    2. ​Sudut elongasi (jarak bulan-matahari) minimal 6,4 derajat.
  • Istikmal: Jika tim di lapangan (yang tersebar di puluhan titik) tidak berhasil melihat hilal karena cuaca mendung atau posisi bulan masih di bawah 3 derajat, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

​2. Metode Muhammadiyah: Hisab Hakiki Wujudul Hilal

​Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yaitu penentuan awal bulan yang murni mengandalkan perhitungan astronomis tanpa perlu melakukan pengamatan mata secara fisik.

  • Landasan Filosofis: Muhammadiyah memandang bahwa ilmu pengetahuan (astronomi) sudah sangat akurat untuk menentukan posisi bulan, sehingga "rukyat" (melihat) bisa digantikan dengan "hisab" (menghitung).
  • Kriteria Wujudul Hilal: Muhammadiyah tidak mensyaratkan tinggi minimal tertentu. Syawal dimulai jika tiga parameter ini terpenuhi:
    1. ​Sudah terjadi Ijtimak (konjungsi antara bumi, bulan, dan matahari dalam satu garis lurus).
    2. ​Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam.
    3. ​Pada saat matahari terbenam, piringan atas bulan sudah berada di atas ufuk (meskipun tingginya hanya 0,01 derajat).
  • Kepastian: Dengan metode ini, Muhammadiyah biasanya sudah mengumumkan tanggal Idul Fitri jauh-jauh hari sebelum Ramadan dimulai.

​Perbandingan Visual Penentuan 1 Syawal

Fitur

Nahdlatul Ulama (NU)

Muhammadiyah

Prinsip

Harus terlihat (Visibilitas)

Asal sudah ada (Wujud)

Alat Utama

Teleskop & Mata Telanjang

Rumus Astronomi (Matematika)

Ambang Batas

Tinggi 3° & Elongasi 6,4°

Tinggi > 0°

Keputusan Akhir

Menunggu Sidang Isbat Pemerintah

Maklumat Pimpinan Pusat (PP)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !
To Top